Tata Nama Senyawa Anorganik dan Organik - Kimia Itu Mudah

Tata Nama Senyawa Anorganik dan Organik
Tata nama senyawa kimia
Salah satu kajian yang terdapat dalam ilmu Kimia adalah pemahaman mengenai materi atau reaksi kimia. Supaya kita bisa mudah memahami suatu reaksi kimia, maka reaksi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk persamaan yang disebut persamaan reaksi kimia.

Suatu persamaan kimia dinyatakan dengan rumus kimia yang ditulis dengan lambang unsurnya. Oleh sebab itulah kita harus tahu terlebih dahulu tentang lambang unsur dan tata nama dari suatu senyawanya.

Nah sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai reaksi kimia, saya akan menjelaskan terlebih dahulu tata cara memberikan nama suatu senyawa kimia dan bagaimana cara penulisannya. Untuk itu, yuk kita lihat pembahasannya di bawah ini.

Tata Nama Senyawa Kimia

Hampir setiap hari para ilmuwan menemukan senyawa baru, entah itu dari hasil sintesis di laboratorium maupun hasil osilasi dari bahan alam. Jika senyawa baru yang ditemukan ini sederhana, maka penamaannya disesuaikan dengan aturan. Tapi jika senyawa tersebut kompleks, biasanya penamaannya didasarkan pada asal bahan tersebut atau dihubungkan dengan sifat senyawanya.

Tidak sembarangan memberikan nama pada suatu senyawa kimia. Penamaan ini diatur oleh IUPAC berdaarkan hasil kesepakatan bersama para imuwan di seluruh dunia. Tujuannya yaitu supaya nama senyawa di seluruh dunia sama.

Secara umum, ada dua kelompok besar suatu senyawa kimia, yaitu senyawa organik dan senyawa anorganik. Penamaan kedua jenis senyawa ini tentu saja berbeda.

Tata Nama Senyawa Anorgaik

Senyawa Organik merupakan golongan senyawa yang tersusun dari unsur-unsur yang tidak menganduk unsur karon organik. Umumnya senyawa anorganik ini relatif sederhana dan penamaan senyawanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu senyawa biner dan senyawa poliatom.

Tata nama senyawa biner

Senyawa biner merupakan senyawa yang tersusun dari dua unsur. Penamaan senyawa ini didasarkan pada nama unsur pembentuknya yang ditulis secara berurutan sesuai dengan penulisan rumus kimia (lambang senyawa) dan akhiran dari unsur keduanya diganti dengan -ida.

Misalnya KCl tersusun dari unsur Kalium dan Klorin, maka nama kimianya menjadi Kalium Klorida. Kemudian Na2O yang tersusun dari unsur Natrium dan Oksigen, maka nama kimianya adalah Natrium Oksida.

Lalu bagaimana jika dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa? misalnya pada NO, NO2, dan N2O4. Untuk senyawa tersebut, penambahan akhiran kata -ida tidak akan cukup, sebab akan muncul senyawa dengan nama yang sama. 

Untuk kasus seperti ini, nama semanya ditambah dengan kata mono-(satu), di-(dua), tri-(tiga), tetra-(empat) yang menunjukkan jumlah unsurnya. Misalnya NO dinamai nitrogen monoksida yang menandakan ada satu atom oksigen. Kemudian NO2 dinamai nitrogen dioksida, dan N2O2 yang dinamai dinitrogen tetraoksida atau nitrogen tetraoksida.

Tata Nama Senyawa Poliatom

Senyawa poliatom tersusun dari lebih dua unsur, misalya adalah Ca(ClO)2 atau kaporit, NaCO3 atau soda kue, dan H2SO4 atau asam sulfat. Biasanya, senyawa poliatom ini mengandung unsur oksigen. Tata nama senyawa poliatom yang mengandung oksigen ini didasarkan pada jumlah atom oksigen yang dikandungnya. Senyawa yang mengandung jumlah atom oksigen paling banyak diberi akhiran -at, sedangkan yang paling sedikit diberi akhiran -it.

Misalnya Na2SO4 (natrium sulfat) dan Na2SO3 (natrium sulfit). Kemudian contoh lainnya adalah KClO3(kalium klorat) dan KClO2 (kalium klorit).

Nah tata nama senyawa tersebut tidak berlaku untuk senyawa yang mengandung atom oksigen lebih banak atau lebih sedikit dari senyawa tersebut. Untuk itu, senyawa yang mengandung atom oksigen lebih banyak, maka diberi awalan per-, sementara senyawa yang lebh sedikit diber awalan hipo-.

Misalnya pada senyawa KClO4 yang diberi nama kalium perklorat, KClO3 dinamai kalium klorat, KClO2 dinamai kalium klorit, dan KClO dinamai kalium hiperklorat.

Tata nama senyawa poliatom ini ada yang tidak sesuai dengan aturan IUPAC karena namanya sudah umum digunakan (trivial). Beberapa contohnya adalah NH3 (amonia), H2O (air), FeS (ferit), KAI(SO4)2 (tawas), Hg2Cl2 (kalomel), dan N2H4 (hidrazin).

Tata Nama Senywa Organik

Senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung atom karbon, kecuali untuk senyawa CO, CO2, CN dan ion CO32- yang tergolong senyawa anorganik. Senyawa organik ini digolongkan ke dalam senyawa hidrokarbon dan turunan hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa yang hanya terdiri dari karbon dan hidrogen. Senyawa hidrokarbon ini digolongkan menjadi alkana, alkena, dan alkuna.

Alkana merupakan senyawa hidrogen yang mengandung ikatan kovalan tunggal di antara atom-atom karbonnya. Alkena mengandung ikatan kovalen rangkap dua pada karbon-karbonnya, sedangkan alkuna mengandung ikatan kovalen rangkap tiga pada karbon-karbonnya.

Tata Nama Senyawa Alkena

Senyawa yang paling sederhana dari alkana adalah metana (CH4), etana (C2H6), propana (C3H8), dan butana (C4H10). Keempat senyawa alkana in sudah dikenal umum (trivial). Senyawa alkana lainnya yang jumlah karbonnya lebh dari 4, maka tata namanya didasarkan pada aturan IUPAC, yakni ditambahkan akhiran -ana. Misalnya pentana (C5H12), heksana (C6H14), dan heptana (C7H16).

Tata Nama Alkena dan Alkuna

Tana nama pada senyawa alkena dan alkuna hampir sama pada senyawa alkana, hanya akhirannya saja berbeda. Alkena diberi akhiran nama -ena dan alkuna diberi akhiran -una. Misalnya pada senyawa alkena C2H4 dinamai etena dan C3H6 dinamai propena. Misalnya pada senyawa C2H2 diberi nama etuna dan C3H6 diberi nama propuna.

Untuk mengetahui tata nama senyawa alkena dan alkuna yang mengandung lebih banyak, maka perlu kita ketahui posisi ikatan rangkapnya. Posisi ikatan rangkap dalam kedua senyawa ini adalah pada atom karbon dengan nomor urut terkecil.

Contoh.

0 Response to "Tata Nama Senyawa Anorganik dan Organik - Kimia Itu Mudah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel